KATA PENGANTAR
Asslamu'alaikum
warohmatullahi wabarokatuh
Puji serta syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah
Konseling Islam yang berjudul “Kedudukan Bimbingan dan Konseling dalam
Pendidikan”. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad
SAW serta keluarga dan para sahabatnya.
Dalam penulisan
makalah ini, pemakalah menyadari masih banyak kekurangan dan kelemahan, baik
mengenai materi maupun sistematika penulisan. Hal ini disebabkan oleh
keterbatasan pengetahuan penulis sendiri. Untuk itu dengan segala kerendahan
hati, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi
kesempurnaan Makalah di masa yang akan datang.
Wassalamu'alaikum
warohmatullohi wabarokatuh
Medan,12
Mei 2015
Pemakalah
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................................. i
DAFTAR ISI............................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
- Latar Belakang............................................................................................... 1
- Rumusan Masalah.......................................................................................... 1
- Tujuan............................................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN
- Kedudukan Bimbingan Konseling dalam pendidikan................................... 2A.Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan............................................ 2
B.Bimbingan dan Konseling di
Sekolah........................................................ 3
C.Urgensi Bimbingan dan Konseling
dalam Pendididikan........................... 6
D. Peran Bimbingan dan Konseling
dalam Sekolah...................................... 7
BAB III PENUTUP
- Kesimpulan.................................................................................................... 9
- Saran.............................................................................................................. 9
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................. 10
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Bimbingan
merupakan proses membantu orang perorangan dalam memahami dirinya sendiri dan
lingkungan hidupnya (the process of helping individuals to understand
themselves and their world) dan konseling diartikan sebagai suatu proses
interaksi yang membantu pemahaman diri dan lingkuangan dengan penuh berarti,
dan menghasilakan pembentukan atau penjelasan tujuan-tujuan dan nilai perilaku
di masa mendatang (an interaction process that facilitates meaningfull
understanding of self and environment, and result in the establilshment or
clarification of goals an values for future behavior).
Bertumpu
pada pengertian diatas, bimbingan dan konseling akan sangat membantu lancaranya
proses pembelajaran dalam suatu lembaga pendidikan, apalagi pada masa sekarang
ini, dimana para kaum muda sudah banyak sekali mengalami
problematika-problematika kehidupan. Keadaan seperti ini sangat sekali
membutuhkan suatu wadah(bimbingan dan konseling terutama di sekolah) untuk
mampu membantu para kaum muda agar ia bisa mengatasi problematika yang ada
sehingga ia bisa terus mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal.
Dalam
makalah ini, penulis akan memaparkan secara khusus peran bimbingan dan
konseling dalam sekolah. Karena dari beberapa literature yang penulis temukan,
bimbingan dan konseling di sekolah sangat berpengaruh terhadap keberhasilan
tercapainya tujuan dari pendidikan. Selain itu juga sangat jarang sekali
ditemukan bimbingan-bimbingan di luar institusi pendidikan.
Dengan itu penulis
merasa sangat urgen sekali untuk mengetahui peran bimbingan dan konseling di
sekolah, sebagai bekal bagi para pembaca khususnya bagi penulis untuk menjadi
seorang guru yang professional.
B.
Rumusan
Masalah
- Bagaimana kedudukan bimbingan dan konseling di sekolah?
- Bagaimana peran bimbingan dan konseling di sekolah?
C. Tujuan
Masalah
- Menjelaskan kedudukan Bimbingan Konseling di sekolah
- Menjelaskan Peran Bimbingan dan Konseling di sekolah.
BAB II
PEMBAHASAN
Kedudukan Bimbingan dan Konseling dalam
Pendidikan
A.Bimbingan dan Konseling dalam
Pendidikan
Sampai dengan Akhir Abad ke-20 upaya pembangunan pendidikan di
indonesia di-
Fokuskan
pada pemerataan pendidikan. Dalam kaitan ini perlu dikaji lebih lanjut apakah
upaya pemerataan pendidikan itu telah disertai dengan kadar yang seimbang
dengan peningkatan mutu pendidikan. Hal ini perlu dikemukakan berhubung adanya
kekhawatiran yang dilontarkan bahwa upaya peningkatan kuantitas yang dipacu
demikian pesat pesat justru akan mengorbankan kualitas[1].
Kekhawatiran bahwa mutu pendidikan
di sekolah kurang mendapatkan perhatian sering di suarakan. Sebagai contoh,
Sartono Kartodiharjo pada akhir 1991 mengemukakan bahwa pendidikan sekolah
dasar diindonesia telah menyapu semua kreativitas dan daya kritis anak.hal itu
perlu menjadi perhatian yang amat serius khususnya berkenaan dengan kualitas
pendidikan diindonesia sudah tidal memadai lagi berpikir tentang penambahan
pengetahuan sebagai titik akhir proses belajar.
Dengan
lahirnya undang undang system pendidikan nasional No 20 tahun 2003 Pendidikan
adalah Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya,
untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri , kepribadian,
kecerdasan,serta ketrampilan yang dimilliki dirinya.masyarakat, bangsa dan
negara,sebagai jawaban untuk memperbaiki kualitas pendidikan di tanah air.
Sekolah dalam memenuhi misinya itu
perlu menyelenggarakan kegiatan
pendidikan dalam arti yang seluas luasnya. Penyelenggaraan pengajaran
saja apalagi kalau pengajaran,itu diartikan secara sempit. Dikhawatirkan akan
disatu segi menjurus kepada pengetahuan kognitif yang tidak seimbang,disegi
lain tidak banyak menyentuh pengambangan keempat dimensi kemanusiaan secara
serasi dan seimbang. Keempat dimensi kemanusiaan itu adalah dimensi
keindividualan. Dimensi kesosialan,dimensi kesusilaan dan dimensi keberagaamaan
.
Sekolah dengan sekuat tenaga perlu
menciptakan suasana pengajaran dan suasana kelas yang menyejukkan dan
bersemangat isi pengajaran nya dakam arti yang luas secara langsung mengait
materi materi yang relevan dengan keempat dimensi dn pengembangan manusia
seutuhnya.
Pengajaran siswa disekolah sering
kali tidak dapat dihindari.meski dengan pengajaran yang baik sekalipun. Hal ini
dikarenakan sumber permasalahan siswa
kebanyakan diluar sekolah. Dalam hal ini permasalahn tersebut tidak dapat
dibiarkan aja apalagi misi kebanyakan disekolah adalah menyediakan pelayanan
yang luas untuk secara aktif membantu siswa mencapai tujuan perkambangan dan
cara mengatasi permasalahannya , maka segenap kegiatan dan dan kemudahan yang
diselenggarakan sekolah perlu diarahkan kesana. Disinilah dirasakan perlunya
Pelayanan Bimbingan dan Konseling disamping kegiatan pengajaran.dalam tugas
pelayanan yang luas bimbingan dan konseling disekolah adalah pelayanan untuk
semua siswa yang mengacu pada keseluruhan perkembangan mereka yang meliputi
keempat dimensi kemanusiaanya dalam rangka mewujudkan manusia seutuhnya
B.
Bimbingan dan konseling di sekolah
Sekolah merupakan lembaga formal
yang secara khusus dibentuk menyelenggarakan pendidikan bagi warga masyarakat.
Dalam kelembagaan sekolah terdapat sejumlah bidang kegiatan , bidang pelayanan
Bimbingan dan konseling mempunyai kedudukan dan peranan yang khusus yaitu :
- Keterkaitan antara bidang pelayanan bimbingan dan konseling dan bidang lainnya.
Dalam proses pendidikan , khususnya
disekolah , mortensen dan schmuller ( 1976 ) mengemukakan adanya bidang bidang
tugas atau pelayananan yang terkait. Bidang tersebut hendaknya secara lengkap
ada apabila diinginkan agar pendidikan disekolah dapat berjalan dengan
sebaik-baiknya. Dan Dalam institusi pendidikan, untuk mencapai perkembangan
peserta didik yang optimal, lembaga pendidikan pada dasarnya membina tiga usaha
pokok, yaitu[2]:
- Bidang pengajaran yaitu Bidang yang meliputi smua bentuk pengembangan dan pelaksanaan pengajaran yait penyampaian dan pengembangan pengetahuan, ketrampilan,sikap dan kemampuan berkomunikasi dengan baik
- Bidang kepemimpinan, yaitu bidang yang meliputi berbagai fungsi berkenaan dengan tanggung jawab dan pengambilan kebijaksanaan serta bentuk bentuk kegiatan pengelolaan dan administrasi sekolah seperti perencanaan, pembiayaan pengadaan dan pengembangan staff, prasarana fisik dan pengawasan
- Bidang pembinaan siswa. Bidang ini memberikan pelayanan kepada siswa dalam hal-hal yang tidak ditangani dalam rangka programpengajaran, namun diperlukan oleh siswa.serta memberi pelayanan agar peserta didik memperoleh kesejahteraan lahiriah dan batiniah dalam proses pendidikan yang sedang ditempuhnya, sehingga mereka dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Bidang ini terasa penting sekali sebab proses belajar hanya akan berhasil dengan baik, apabila para peserta didik berada dalam keadaan sejahtera, sehat dan dalam suasana tahap perkembangan yang optimal.
Kegiatan
pendidikan yang baik dan ideal, hendaknya mencakup ketiga bidang tersebut.
Sekolah atau lembaga pendidikan yang hanya menjalankan program kegiatan
intruksional (pengajaran) dan administrasi saja, tanpa memperhatikan kegiatan
bidang pembinaan pribadi peserta didik, mungkin hanya akan menghasilkan
individu yang pintar dan cakap, serta bercita-cita tinggi, tetapi mereka kurang
mampu dalam memahami potensi yang dimilikinya, dan kurang / tidak mampu untuk
mewujudkan dirinya dalam kehidupan masyarakat.
Hal tersebut
menyebabkan mereka mengalami kegagalan dan kesuksesan sewaktu terjun ke
masyarakat atau lapangan kerja, meskipun nilai rapor atau IP yang diperolehnya
cukup tinggi. Hal inilah penyebab timbulnya apa yang sering disebut sebagai
pengangguran intelektual atau sarjana tidak siap pakai.
Selain itu
timbulnya berbagai fenomena perilaku peserta didik dewasa ini seperti tawuran,
penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan psikotropika, perilaku seksual
menyimpang, pencapaian hasil belajar yang tidak memuaskan, tidak lulus ujian
dan lain sebagainya, menunjukkan bahwa tujuan pendidikan belum sepenuhnya mampu
menjawab atau memecahkan berbagai persoalan tersebut.
Dalam
kondisi yang seperti inilah dirasakan perlunya pelayanan bimbingan dan
konseling yang memfokuskan kegiatannya dalam membantu para peserta didik secara
pribadi agar mereka dapat berhasil dalam proses pendidikan yang sedang
ditempuhnya. Melalui program pelayanan bimbingan dan konseling yang baik, maka
setiap peserta didik diharapkan mendapat kesempatan untuk megembangkan setiap
potensi yang dimilikinya seoptimal mungkin, sehingga mereka dapat menemukan
kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial. Dengan demikian juga dapat
dikatakan bahwa program pelayanan bimbingan dan konseling berusaha untuk dapat
mempertemukan antara kemampuan individu dengan cita-citanya serta dengan
situasi dan kebutuhan masyarakat.
Disebutkan
juga bahwa hal yang menimbulkan kebutuhan akan pelayanan bimbingan dan
konseling di sekolah adalah demokratisasi dalam bidang pendidikan yang
mengakibatkan peserta didik dari berbagai lapisan dan suku dalam
masyarakat akan saling bertemu di gedung sekolah serta dihadapkan pada tuntunan
untuk saling mengerti dan saling menerima. Perkembangan teknologi, yang
mengakibatkan variasi besar dalam kesempatan dan tempat mendapat pekerjaan
serta dapat menyebabkan pengangguran karena tenaga manusia diganti dengan
tenaga mesin. Diferensiasi dalam program-program pendidikan sekolah yang
menimbulkan kesulitan bagi peserta didik dalam program pendidikan yang sesuai
dengan kemampuannya.
Untuk dapat
melaksanakan kegiatan pembinaan pribadi peserta didik dengan baik diperlukan
petugas-petugas khusus yang mempunyai keahlian dalam bidang bimbingan dan
konseling. Dikatakan demikian karena beberapa alasan sebagai berikut:
1. Ada beberapa
masalah dalam pendidikan dan pengajaran yang tidak mungkin diselesaikan hanya
oleh guru / dosen sebagai staf pengajar, karena pada umumnya guru atau dosen
lebih banyak menggunakan waktunya untuk melaksanakan tugas dan tanggung
jawabnya dalam kegiatan pengajaran. Masalah tersebut misalnya, pengumpulan data
tentang peserta didik. Penyelesaian masalah pribadi atau social dan lain
sebagianya.
2. Pekerjaan
menyelesaikan masalah pribadi dan social kadang-kadang memerlukan keahlian
tersendiri. Penangan masalah ini akan sangat sulit dilaksanakan oleh staf
pengajar yang telah dibebani tugas dalam bidang intruksioanl.
3. Dalam
situasi tertentu kadang-kadang terjadi konflik antara peserta didik dengan guru
/ dosen, sehingga dalam situasi tersebut sangat sulit bagi guru / dosen untuk
menyelesaikannya sendiri. Untuk itu perlu adanya pihak ketiga yang dapat
membantu penyelesaian konflik tersebut.
4. Dalam
situasi tertentu juga dirasakan perlunya suatu wadah atau lembaga untuk
menampung dan menyelesaikan masalah-masalah peserta didik yang tidak dapat
tertampung dan terselesaikan oleh peserta didik. Misalnya, bila ada seorang
siswa yang menghadapi masalah pribadi yang cukup serius. Para peserta didik
kadang-kadang merasa bukan wewenangnya untuk membantu peserta didik tersebut.
Sehingga bilamana bidang pembinaan pribadi bimbingan dan konseling tidak ada
atau tidak berfungsi, peserta didik tersebut akan tetap dalam keadaan
bermasalah, karena tidak adanya wadah dan tenaga yang dapat membantunya dalam
menyelesaikan masalah yang dihadapinya.
Dari uraian
terdahulu jelaslah bahwa dalam keseluruhan proses pendidikan, program bimbingan
dan konseling merupakan keharusan yang tidak dapat dipisahkan dari program
pendidikan pada umumnya. Apalagi dalam situasi sekarang ini, dimana fungsi
sekolah atau lembaga pendidikan formal tidak hanya membekali para siswa dengan
setumpuk ilmu pengetahuan saja, tetapi juga mempersiapkan para peserta didik untuk
memenuhi tuntutan perubahan serta kemajuan yang terjadi dilingkungan
masyarakat. Sebagaimana dikemukakan pada uraian terdahulu bahwa perubahan dan
kemajuan ini akan menimbulkan masalah, khususnya bagi para peserta didik itu
sendiri dan umumnya bagi pihak-pihak yang terlibat di dalam dunia pendidikan.
Para peserta didik akan menghadapi masalah pemilihan spesialisasi, pemilihan
jurusan, pemilihan program, msalah belajar, masalah penyesuaian diri, masalah
pribadi dan social dan lain sebagainya yang membutuhkan penanganan dan bantuan
dari bidang pembinaan pribadi yang m erupakan bagian integral dari keselurhan
system pendidikan nasional.
Dari
pembahasan di atas, dapatlah ditemukan kedudukan pelayanan bimbingan dan
konseling dalam keseluruhan program pendidikan di sekolah, yaitu sebagai salah satu
upaya pembinaan pribadi peserta didik.
B.
Urgensi
Bimbingan dan Konseling Dalam Pendidikan
Berbagai
fenomena perilaku peserta didik dewasa ini seperti tawuran, penyalahgunaan,
obat-obatan dan lain sebagainya, menunjukkan bahwa tujuan pendidikan yang slah
satu upaya pencapaiannya melalui proses pembelajaran, belum sepenuhnya mampu
memecahkan berbagai persoalan tersebut. Oleh karma itu upaya yang harus
dilakukan adalah melalui pendekatan bimbingan dan konseling yang dilakukan di
luar situasi proses pembelajaran
Selain
alasan di atas, ada beberapa alasan mengapa pelayanan bimningan dan konseling
diperlukan dalam dunia pendidikan terutama dalam lingkup sekolah dan madrasah,
alasan tersebut adalah :
Pertama,
perkembangan IPTEK. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian
cepat menimbulkan perubahan-perubahan dalam berbagai sendi kehidupan seperti
social, budaya, politik, ekonomi, industri, dan lain sebagainya.
Berbagai problem
yang amat kompleks sebagai akibat perkembangan IPTEK juga berpengaruh dalam
dunia pendidikan khususnya dalam lingkup sekolah dan madrasah.sebagai lembaga
pendidikan formal, seklah dan madrasah bertanggung jawab mendidik dan
menyiapkan peserta didik agar mampu menyesuaikan diri di dalam masyarakat dan
mampu memecahkan masalah secara mandirir. Dalam kondisi seperti itu layanan
bimbingan dan konseling sangat diperlukan.
Kedua, makna dan
fungsi pendidikan. Kebutuhan akan layanan bimbingan dan konseling dalam
pendidikan berkaitan erat dengan hakikat makna dan fungsi pendidikan dalam
keseluruhan aspek kehidupan. Selain itu kebutuhan layanan pendidikan juga
berkaitan erat dengan pandangan akan hakikat dan karakteristik peserta didik.
Hadirnya layanan bimbigan dan konseling dalam pendidikan adalah apabila kita
memandang bahwa pendidikan merupakan upaya untuk mencapai perwujudan manusia
secara keseluruhan dan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.
Ketiga, guru.
Tugas dan tanggung jawab utama guru sebagai pendidik adalah mendidik sekaligus
mengajar, yaitu membantu peserta didik untuk mencapai kedewasaan. Dalam proses
pembelajaran tugas utama guru selain sebagai pengajar juga sebagai pembimbing.
Fungsi sebagai pengajar sekaligus pembimbing terintegrasi dalam peran guru
dalam proses pembelajaran. Untuk menjalan tugas ini secara efektif, guru
hendaknya memahami semua aspek pribadi peserta didik baik fisik maupun spikis.
Keempat, faktor
psikologis. Dalam proses pendidikan di sekolah termasuk madrasah, siswa merupakan
pribadi-pribadi yang unik dengan segala karakteristiknya. Sebagai individu yang
dinamis dan berada dalam proses perkembangan, siswa memiliki kebutuhan dan
dinamika dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Terdapat perbedaan individual
antara siswa yang satu dengan yang lainnya.
Beberapa
masalah psikologis yang menjadi latar belakang perlunya layanan bimbingan
konseling di sekolah maupun dimadrasah, yaitu :[3]
1. Masalah
perkembangan individu.
2. Masalah
perbedaan individu
3. Masalah
kebutuhan individu
4. Masalah
penyesuaian diri.
5. Masalah
belajar.
6.
Kepribadian
C.
Peran
Bimbingan dan Konseling dalam Sekolah
Sekolah atau
lembaga pendidikan, sebagaimana telah dijelaskan di atas bertujuan untuk
mempersiapkan dan menghasilkan tenaga untuk mengisi formasi-formasi yang
dibutuhkan oleh masyarakat atau pemerintah. Hal ini berarti bahwa tamatan suatu
sekolah atau lembaga pendidikan tertentu diharapkan mampu mencetak manusia
Indonesia yang memiliki kualifikasi ahli, baik secara akademis maupun
professional. Ditinjau dari segi tujuan pendidikan nasional yang telah
digariskan dalam Undang-Undang Republik Indonesia no.20 tahun 2003 tentang
system pendidikan nasional, dikemukakan bahwa ” pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupapn bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada tuhan yangmaha esa, berakhlalk mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.
Bila
dijabarkan lebih lanjutnya, maka dalam hal kualifikasi ahli para tamatan suatu
sekolah atau lembaga pendidikan sekurang-kurangnya memiliki empat kompetensi
pokok, yaitu kompetensi religious, kompetensi akademis atau profesional,
kompetensi kemanusiaan dan kompetensi sosial.
Kompetensi
religious yaitu kemampuan untuk mengendalikan diri agar tidak melanggar
perintah Allah SWT dan sebaliknya, tidak memperturutkan segala sesuatu yang
dilarang oleh Allah SWT.
Kompetensi
akademis atau profesional adalah kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
harus dimiliki sesuai dengan bidangnya masing-masing serta pengaplikasian ilmu
pengetahuan dan teknologi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk dalam
kompetensi akademis atau professional ini adalah kompetensi dalam melakukan
tanggung jawab sesuai dengan keahliannya.
Sedangkan
kompetensi kemanusiaan atau individual adalah kemampuan para tamatan suatu
lembaga pendidikan agar mampu mewujudkan dirinya sebagai pribadi ayang mandiri
untuk melakukan transformasi diri dan pemahaman diri. Pencapaian kompetensi ini
erat kaitannya dengan pencapaian kematangan dalam aspek intelektual, emosional
dan sosial
Kompetensi
kemasyarakatan adalah komampuan para tamatan sekolah atau lembaga pendidikan
untuk memahami bahwa dirinya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari
masyarakat dan mampu mengemban tugasnya sebagai anggota masyarakat dan warga
Negara Indonesia.
Keseluruhan
kegiatan pendidikan di sekolah jelas dan seharusnya diarahkan untuk mencapai
terwujudnya keempat kompetensi itu pada setiap peserta didiknya. Dapat dipahami
tanpa masuknya pelayanan bimbingan dan konseling ke dalam system pendidikan,
para lulusannya mungkin hanya mampu memiliki kompetensi akademis saja, sarat
dengan pemilikan ilmu pengetahuan dan teknologi, ahli dan profesional dalam
bidangnya, akan tetapi tidak memiliki kompetensi kemanusiaan dan sosial.
Sehingga mereka tidak memiliki kemampuan transformasi diri, kematangan
intelektual dan emosional dan mereka justru seperti menara gading ditengah
masyarakatnya dan tidak jarang mereka justru menjadi bingung dan tergantung
pada pihak lain setelah menjadi sarjana.
Dalam rangka
itu, secara umum dapat dilihat peranan pelayanan bimbingan dan konseling dalam
pendidikan sesuai dengan urgensi dan kedudukannya, maka ia berperan sebagai
penunjang kegiatan pendidikan lainnya dalam mencapai tujuan pendidikan yang
telah digariskan melalui Undang-Undang Republik Indonesia no.20 tahun 2003.
Peran ini dimanifestasikan dalam bentuk membantu para peserta didik untuk
mengembangkan kompetensi religius, kompetensi kemanusiaan dan kompetensi
sosial, serta membantu kelancaran para peserta didik dalam pengembangan
kompetensi akademik dan profesional sesuai dengan bidang yang ditekuninya
melalui pelayanan bimbingan dan konseling.
Secara
operasional peranan yang dimainkan oleh pelayanan bimbingan dan konseling dalam
pendidikan seperti yang dikemukakan di atas akan terwujud dalam tujuan dan
fungsinya.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kedudukan
bimbingan dan konseling di sekolah adalah sebagai alat untuk Pemahaman terhadap
perkembangan siswa dapat menjadi dasar bagi pengembangan strategi dan proses pembelajaran
yang membantu siswa mengembangkan perilaku-perilakunya yang baru Perkembangan
siswa di sekolah meliputi aspek-aspek fisik, kecerdasan, emosi, sosial dan
kepribadian. Kenyataan menunjukan bahwa pada setiap siswa memiliki
karakteristik pribadi atau perlaku yang relatif berbeda dengan siswa lainnya.
Keragaman perilaku ini mengandung implikasi akan perlunya data dan pemahaman
yang memadai terhadap setiap siswa.
peranan
pelayanan bimbingan dan konseling dalam pendidikan sesuai dengan urgensi dan
kedudukannya, maka ia berperan sebagai penunjang kegiatan pendidikan lainnya
dalam mencapai tujuan pendidikan yang telah digariskan melalui Undang-Undang
Republik Indonesia No.20 tahun 2003. Peran ini dimanifestasikan dalam bentuk
membantu para peserta didik untuk mengembangkan kompetensi religius, kompetensi
kemanusiaan dan kompetensi social, serta membantu kelancaran para peserta didik
dalam pengembangan kompetensi akademik dan professional sesuai dengan bidang
yang ditekuninya melalui pelayanan bimbingan dan konseling.
B. Saran
Dengan
kerendahan hati, penulis merasa makalah ini sangat sederhana dan jauh dari
kesempurnaan. Saran dan kritik yang konstuktif sangat diperlukan demi
kesempurnaan makalah sehingga akan lebih bermanfaat bagi kita semua.
DAFTAR
PUSTAKA
- Abu Bakar M.Luddin, 2014, Dasar Dasar Bimbingan dan
Konseling Konseling Islam ,Kota Binjai: Difa Niaga.
- Haiatin
Chasanatin, 2010, Bimbingan dan Konseling, Metro
- Prayitno, Erman Amti, 2004. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling, Jakarta: Rineka Cipta
- Hallen a, 2005, Bimbingan dan
Konseling. Jakarta: Ciputat Pres..
[2]
M.Luddin,Abu Bakar, ‘’ Dasar Dasar Bimbingan dan Konseling+ Konseling islam’’(
Binjai: Difa Niaga .2014 ) hal 108
Tidak ada komentar:
Posting Komentar